SELAMAT DATANG... di Blog DPRa PKS Kalianyar semoga semua tulisan yang ada diblog ini bermanfaat

Jama'ah Penuh Berkah

Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah antara qiyadah dan jundiyah menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan.

Bekerja Untuk Indonesia

Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (9:105)

Inilah Jalan Kami

Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik. (12:108)

Biduk Kebersamaan

Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.

Kesungguhan Membangun Peradaban

Semua kesungguhan akan menjumpai hasilnya. Ini bukan kata mutiara, namun itulah kenyataannya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang diusahakan dengan sepenuh kesungguhan.

Tampilkan postingan dengan label OASE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OASE. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Desember 2011

SAYA INI SEDANG FUTUR...



Saya ini sedang futur ......
Terbukti dengan ogah-ogahan saya datang
Ke pengajian tiap pekan
Dengan alasan klasik: kuliahlah, lelahlah,
Kerjalah, sibuklah, inilah, itulah

Saya ini sedang futur.....
Lihat penampilan saya
Yang banyak berubah
Tak lagi pandai menjaga pandangan,
Sering cari sasaran

Saya ini sedang futur ....
Jarang baca buku tentang Islam,
Lagi demam baca koran
Dulu, tilawah tak pernah ketinggalan
Sekarang, satu halaman sudah lumayan
Tilawah sudah tidak lagi berkesan,
Nonton “layar emas” ketagihan

Saya ini sedang futur .....
Walau takut akan adzab
Tak pernah sekalipun terisak,
Malah sering terbahak

Saya ini sedang futur .....
Mulai malas shalat malam,
Jarang bertafakkur
Ba’da shubuh, kanan-kiri salam lantas
Kembali mendengkur
Apalagi waktu libur
Sampai menjelang dzuhur

Saya ini sedang futur ....
Lihat perut saya semakin buncit
Karena junkfood dan pangsit
Kalau infak sedikit dan sudah mulai pelit
Apalagi shaum sunnah,
Perut rasanya begah

Ente tau ane lagi futur ....
Sedikit dzikir banyakan tidur
Belajar ngawur, IP pun hancur
Sohib-sohib tidak ada yang negur

Ente tau ane lagi futur .....
Ati beku otak ngelantur
Mikiran orang sedulur - dulur
Diri sendiri tidak pernah ngukur

Ente tau ane sekarang,
seneng duduk dikursi goyang
Perut kenyang otak melayang
Mulut sibuk ngomongin orang
Aib sendiri tidak kebayang

Ente tahu ane bengal......
Bangun malam sering ditinggal
Otak kebal banyak ngehayal
Udah lupa nyang namanya ajal

Ente tau ane begini
Udah sok tau seneng dipuji
Ngomong sok suci kayak Murobbi
Kagak ngaca diri sendiri

Ente tau ane gegabah
Petantang-petenteng merasa gagah
Diri ngaku-ngaku ikhwah,
padahal kalo “mau muhasabah”
‘ntu diri nggak beda sampah

Ente tau ane sekarang
Udah kalah di medan perang
Ane pengen pulang kandang
Ke tempat dulu ane datang

Saya ini sedang futur ....
Sibuk ngurusin kerjaan,
ogah nanganin binaan

Saya ini sedang futur ....
Malas ngurusin dakwah
Rajinnya bikin orang tua marah
Sedikit sekali muhasabah
Sering sekali menghibah

Ya, memang saya sedang futur
Mengapa saya futur ???
Mengapa tidak ada seorang ikhwah pun
yang menegur dan menghibur ?
Kenapa batas-batas sudah mulai kendur ?
Kepura-puraan, basa-basi dan kekakuan makin subur
Kenapa di antara kita sudah tidak jujur ?
Kenapa ukhuwah kita sudah mulai luntur ?
Kenapa di antara kita hanya pandai bertutur ?

Ya Allah, berikan hamba-Mu ini pelipur
Agar hamba tidak semakin futur
Apalagi sampai tersungkur

Rabu, 14 Desember 2011

SAHABAT SEJATI


“Teman-teman akrab pada hari itu (hari kiamat) akan saling bermusuhan kecuali orang-orang yang bertakwa.”
(az-Zukhruf : 67)

Oleh : Kukuh Sulisman

“Barangsiapa keliru memilih tukang cukur, ia akan menyesal sebulan. Barangsiapa tidak tepat memilih teman hidup, ia akan menyesal di dunia. Barangsiapa salah memilih agama, ia akan menyesal dunia akhirat.”

Itulah untaian kata-kata yang masih terus terngiang dalam benak kita. Mutiara hikmah yang dipesankan leluhur, orang tua, dan guru ngaji diwaktu kecil, agar kita lebih jeli dalam mengarungi bahtera kehidupan ini. Agar kita mantap menatap masa depan.

Kehadiran sahabat sejati menjadi dambaan setiap orang. Ia adalah pelita penerang dalam kehidupan. Ia bak bintang yang menemani sang rembulan dilangit malam, bersama menghiasi panorama kegelapan. Ia selalu membawa keteduhan dan kesejukan dimanapun ia berada. Tak heran bila kepergiannya pun akan meninggalkan sejuta kenangan. Hari-hari kebersamaan dengannya selalu sulit untuk dilupakan, selamanya.

Ikatan ukhuwah bagi sahabat semacam ini tak akan putus diterjang badai kepentingan duniawi bernama materi, pangkat, jabatan, dan kekuasaan. Jarak yang jauh, perbedaan yang waktu dan ruang juga bukan menjadi penghalang. Sebab, pancaran kasih sayangnya timbul dari hati yang dalam. Bukan dari lisan yang suka berbohong. Bukan pula dari titah nafsu yang penuh noda.

Sahabat sejati kita mungkin tak sempat mengenyam pendidikan tinggi. Tak sempat kesana kemari sebebas kita. Kehidupan dunianya pun kadang masih ‘senin-kamis’. Jauh dibawah kita. Tapi ditengah kondisi seperti itu, ia masih sempat untuk selalu melemparkan senyum keakraban saat berpapasan. Ia masih punya waktu untuk menyediakan sapa mesra saat bertemu. Taushiahnya begitu menyentuh. Kata-katanya memberikan tetes embun kesejukan.

Kondisi yang ada menjadikan tawadhu dengan segala keagungan yang dimilikinya. Subhanallah, kesabarannya membuat semua kekurangan yang dipunyainya menjadi nikmat yang tak terkira, menjadi pesona yang tak ternilai.

Ia memang tak harus selalu mengiyakan semua tingkah laku kita. Ia tidak mesti selalu sependapat dan melulu memuji. Tidak pula harus selalu tampak sejalan dengan pikiran kita. Namun, ada kalanya ia laksana obat. Pahit tetapi mampu mengusir penyakit yang mungkin hinggap di tubuh sahabatnya. Ia berani mengkritik bijak setiap kesalahan kita. Ia takut kekurangan dan kesalahan itu akan membuat sahabatnya tercela. Baginya, biarlah ucapannya pahit didepan sang sahabat, ketimbang sang sahabat cacat di mata Allah, di mata agamanya, di mata orang lain.

Ia juga setia mengingatkan di saat sang sahabat lalai. Ia tak hanya piawai membuat kita ceria dibuai hiburan dan pujian tulusnya. Tetapi juga mahir membuat kita menangisi kekeliruan, menyadari segenap kesalahan, menginsyafi segala kelalaian. Lalu ia membimbing dengan ikhlas, mengajak berjalan bersama, berjuang bersama.

Dan yang terpenting, ia selalu mendukung, mengarahkan dan memberikan gagasan-gagasan cerdas untuk mengarungi kehidupan ini menuju muara cinta-Nya yang hakiki.

Sahabat sejati akan mencintai kita sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Merasa gembira dengan kegembiraan kita, turut bersedih kala duka menyapa kita. Ia hafal benar bunyi hadis: “Tidak sempurna iman seseorang diantara kamu hingga ia mencintai saudaranya seperti halnya ia mencintai dirinya sendiri.”

Ia juga selalu ingat sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang palng bermanfaat bagi orang lain.”

“Islam hanya akan bisa bangkit kembali dengan cara  seperti ini. Bukankah Rasulullah SAW telah mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin hingga persaudaraan mereka sampai melebihi saudara kandung?” begitu jawabnya setiap ditanya tentang urgensi persaudaraan.

Ia pun sering membacakan hadis tentang tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. Ia juga tak pernah bosan melantunkan hadis tentang syarat merasakan manisnya iman. Saling mencintai demi keridhaan Allah, itulah prinsip hidupnya pegangannya.

“Engkau membutuhkan sesuatu dariku dan aku bisa mempersembahkan yang terbaik untukmu,” kata-katanya yang selalu menghiasai lisannya yang sederhana.

Orang seperti ini dan sahabat-sahabat sejatinya, itulah yang sigambarkan Rasulullah SAW sebagai kelompok hamba Allah di akhirat. Mereka bukan dari golongan nabi dan syuhada, akan tetapi kedudukan mereka di sisi Allah sangat mulia. Bahkan cahaya benderang dari wajah mereka membuat para nabi dan syuhada merasa iri. Mereka tidak merasa takut ketika orang lain merasa takut, dan mereka tidak merasa khawatir ketika orang lain dilanda kekhawatiran.

Sosok seperti inilah yang mampu menjadikan persahabatan sebagai jembatan menuju ridha ilahi. Berbahagialah mereka yang sempat mendapatkan makhluk yang satu ini sebagai sahabat. Merasakan keindahan hakiki ditemani sosok mulia ini, sang pujaan hati, sahabat sejati. ■

[Lembaran Jum’at, Edisi 17 Th. 2010]